Rabu, 14 Juni 2017

NGLIWET Menggunakan Panci PRESTO


Saat tagihan listrik naik-naik ke puncak gunung begini, saatnya para mamak dituntut untuk berinovasi bagaimana menggunakan listrik sehemat mungkin. Buat saya, salah satunya ya katakan tidak pada Magic Com untuk menanak nasi. Beralih ke dandang? Itu artinya sama saja mengalihkan isu borosnya listrik ke borosnya gas. Jawaban cerdasnya adalah "ngliwet" yaitu menanak nasi dengan panci PRESTO. Kenapa harus panci PRESTO? Karena ngliwet menggunakan panci presto itu hemat dalam banyak hal diantaranya adalah :
1. Hemat Waktu, tidak lebih dari 20 menit
2. Hemat Energi, hanya menggunakan kompor gas api kecil kurang dari 20 menit
3. Praktis, cukup masak dengan 1 panci.



Lalu bagaimana caranya?

Tips ini adalah hasil pengalaman saya ngliwet dengan panci PRESTO selama lebih dari 17 tahun.


1. Setelah beras dicuci bersih, masukkan beras ke dalam panci lalu tutup panci rapat rapat sampai ada bunyi klik.
2. Masak dengan menggunakan api besar hingga mendidih. Tandanya adalah bunyi mendesis dan bunyi klik pada katupnya.
3. Setelah mendidih, kecilkan api, jangan terlalu besar atau terlalu kecil. Kalau api terlalu besar bisa menyisakan kerak. Terlalu kecil juga berresiko katup terbuka kembali. Kalau itu terjadi besarkan sedikit saja. Masak selama 13 menit saja, tidak kurang tidak lebih (ini adalah waktu ideal hasil pengalaman saya selama 17 tahun). Kalau kelamaan gosong dan ada keraknya, kalau kurang nasi menjadi kurang tanak. Trik saya, yaitu menggunakan timer di HP.
4. Setelah 13 menit matikan api. tunggu sampai ada bunyi klik dan tutup mudah dibuka.
5. Aduk rata nasi yang sudah masak agar masaknya merata.
6. Butuh pengalaman untuk bisa mahir ngliwet pakai presto ini. Terutama untuk jumlah airnya. Karena selera masing-masing berbeda. Kalau saya, yang paling pas itu 3 gelas beras ditambahkan 4 gelas air.
6. Nasi yang dihasilkan seperti nasi liwet, menul-menul cenderung lembek.

Selamat mencoba....



Rabu, 12 Oktober 2016

  



Assalamu’alaikum simbok,

Simbok apa kabar? Harapanku semoga simbok sehat dan gembira selalu. Supaya simbok dapat terus melantunkan Sholawat Nabi setiap hari. Hari ini hari ibu. Dan perempuan yang muncul di ingatanku adalah simbok. Ijinkan aku menuliskan sesuatu untuk simbok yang selama ini mungkin tak pernah kau tau.

Simbok,
Syukur kepada Gusti Allah tak pernah henti kupanjatkan. Untuk takdirNya yang membawaku menjadi menantumu Sungguh aku bahagia menjadi menantumu. Sebahagia aku menjadi istri dari anak lelaki kesayanganmu itu.
Simbok,
Ijinkan aku untuk tetap memanggilmu simbok. Biar saja menantumu yang lain memanggilmu ibu. Bukan apa-apa. Aku hanya ingin duduk sejajar anak-anakmu yang terbiasa memanggilmu simbok sejak kecil seperti yang simbok ajarkan. Aku tak pernah merasa malu walau kata kebanyakan orang panggilan simbok itu terkesan ndeso. Buatku, memanggilmu simbok itu justru terdengar lebih akrab. Serasa aku adalah anakmu, bukan menantumu.

Simbok,
Matur nuwun untuk semua yang telah simbok berikan untukku. Untuk keikhlasan simbok melepas anak lelaki kesayanganmu menjadi suamiku. Aku berjanji, dengan menjadikan aku istrinya, tidak akan pernah mengurangi bakti dan kasih sayangnya untuk simbok. Justru aku ingin menyempurnakannya. Terus mendampinginya untuk menjadi anak yang selalu berbakti kepada simbok.

Simbok,
Di setiap do’aku, namamu tak lupa selalu kusebut. Yang paling utama kumohonkan agar simbok dianugerahi Gusti Allah umur yang panjang. Aku ingin simbok dapat mendampingi kami lebih lama. Hidupku terasa lebih ayem saat ada simbok di sampingku. Ilmu ikhlas yang tanpa sadar selalu simbok ajarkan kepadaku sungguh membuat hidupku lebih bermakna.

Simbok,
Sekali lagi matur nuwun. 



Krapyak Kulon 22 Desember 2015




 Jawa Pos edisi 22 Desember 2015

 

Tradisi Lebaran : Ora Sido Ba'dan yen Ora Nganggo Klambi Anyar (Nggak Jadi Lebaran Jika Tanpa Baju Baru)

 
          Lebaran buatku punya makna yang teramat istimewa. Mengenang lebaran di masa kecilku sungguh menggetarkan hatiku. Aku kecil (beserta kakak dan kedua adikku tentu) selalu menantikan hari raya tiba, atau riyoyo dalam bahasa Jawa. Yang paling aku nantikan adalah baju baru. Bagi kami nggak jadi lebaran bila tanpa baju baru (ora sido ba'dan yen ora nganggo klambi anyar). Maklum saja, selain lebaran orang tua kami tidak membelikan baju baru. Oleh karena itu, demi cintanya kepada kami anak-anaknya, apapun akan dilakukan ibuku tercinta untuk menyediakan baju baru untuk kami. Tak jarang kami memakai baju yang seragam model maupun motifnya dg beberapa teman se RT karena sumbernya sama, yaitu kredit pada orang yang sama. Hingga seperti memakai baju inventaris RT.  Pernah juga, karena memang keterbatasan uang dan tidak ada yang bisa dikredit, ibuku sampai rela membuat sendiri  menjahit dengan tangan dan dengan bahan kain daur ulang. Berhari-hari Ibu menjahit 4 stel baju, bahkan hingga dilembur di malam takbiran demi  kegembiraan kami, anak-anaknya. Alhamdulillah, apapun bentuknya, kami selalu PEDE dan nggak pernah mati gaya dengan semua yang diberikan ibu. Ibuku selalu berhasil membuat kami tersenyum gembira di Hari Raya dengan “baju baru” walaupun seadanya.Ritual baju baru itu terus berlangsung hingga aku besar.

          Kini ketika aku sudah menjadi ibu, ritual baju lebaran itu kuwariskan kepada anak-anakku.Bukan baju barunya yang penting. Namun senyum bahagialah esensinya. Aku rela melakukan apa saja untuk membuat anak-anakku tersenyum gembira di hari raya, seperti yang dulu Ibuku selalu lakukan untukku. Aku baru merasakan, ternyata senyum anak-anak adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang ibu.

          Aku bersyukur telah dianugerahi seorang Ibu yang sangat kasih kepada anak-anaknya. Untuk dapat membalas semua yang sudah Ibuku lakukan rasanya tak mungkin, karena sungguh terlalu banyak yang sudah ibuku beri. Yang bisa aku lakukan paling tidak adalah membuat Ibuku tersenyum di hari raya. Ketika aku membuat list daftar keperluan hari raya, no urut 1 adalah membelikan baju dan perlengkapan lebaran untuk ibuku. Mungkin itu tak seberapa, tapi paling tidak aku sudah berusaha membalas keringat dan kerja keras ibuku  dengan membuat ibuku tersenyum di hari raya. Mudah-mudahan aku bisa senantiasa membuat ibu dan anak-anakku terus tersenyum, bukan hanya di hari raya namun di sepanjang hidup mereka.....


Dear Diary,

Hari  ini usia Debay memasuki 25 minggu. Lihat perut Mama , semakin membuncit saja. Kata Ayah, Mama makin cantik dengan perut buncit. Benarkah?  Pandai benar Ayah menyenangkan hati Mama.
Cantik atau jelek bukan masalah buat Mama.  Dalam setiap do’a,  Mama minta  semoga Mama dan Debay sehat hingga Debay lahir nanti. Juga saat upacara 7 Bulanan Mama kemarin,  Mama seneng banget  mengaji Surat Yusuf dan Maryam bareng  ibu-ibu pengajian.

Sebetulnya Mama bersyukur Debay nggak rewel. Mama nggak mabok ataupun ngidam sampai usia Debay 25 minggu ini. Kata  nenek  Mama Ngebo. Hihihihi    .

Tapi Diary,
Senyatanya Mama khawatir sama  Debay. Kata Dokter,  berat Debay sekarang diperkirakan hanya sekitar 1,8 kg saja. Jika dibiarkan, bisa-bisa Debay nanti lahir tak lebih dari 2,5 kg.

Mama  bingung Diary…
Perasaan,  Mama sudah banyak makan makanan bergizi dan juga sudah minum susu dan vitamin lho. Kok Debay tetep kecil ya?

Kemungkinan besar ada kelainan di plasenta hingga asupan makanan dari Mama ke Debay tidak maksimal. Begitu kata Dokter. Solusinya nanti di usia Debay 28 minggu, Mama akan diinfus agar berat Debay meningkat . Lucu juga ya,  sehat kok diinfus. It’s oke lah. Demi  Debay tersayang apapun akan Mama lakukan.

Krapyak Kulon, 22 Maret 2004
Perbedaan 1 Syawal Membawa Hikmah

          Perbedaan penentuan tanggal 1 Syawal yang baru saja kita alami kemarin sungguh memberikan hikmah yang luar biasa untuk keluarga kecilku. Sungguh aku makin percaya bahwa Allah memang Maha Sutradara  dan tak sehelai daun pun yang jatuh tanpa campur tanganNya.Kita manusia diwajibkan untuk dapat menggunakan akal pikiran kita untuk membaca hikmah atas segala rencanaNya yang harus kita hadapi.
          Jujur awalnya aku bingung bagaimana harus menyikapi perbedaan penentuan Lebaran itu. Mungkin nampaknya sepele buat sebagian orang. Tinggal mana yang kita percayai, kita ikuti, selesai. Tapi tidak untuk kami, keluarga kecilku.Betapa tidak, aku dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah banget, sementara sekarang aku dengan keluarga kecilku tinggal di lingkungan yang fanatik NU, termasuk mertua dan keluarga suamiku lainnya, karena kami tinggal di lingkungan Pondok Pesantren NU. Jika aku mengikuti lebaran di hari Selasa, aku sangat mengerti, pasti sangat sulit buat suamiku ketika berhadapan dengan orang tua dan keluarganya. Sebaliknya, jika aku berlebaran hari Rabu aku tidak tahu bagaimana  harus bersikap kepada orang tua dan keluarga besarku. Dan aku tidak ingin anak-anakku kehilangan indahnya moment kebersamaan di hari raya bersama kedua keluarga besar.
          Senin sore tanggal 28 Agustus 2011 adalah saat-saat menegangkan buatku. Penentuan tanggal 1 Syawal yang tak kunjung diumumkan oleh pemerintah tambah membuatku semakin cemas. Jika pada lebaran-lebaran sebelumnya aku nggak pernah menyiapkan hidangan lebaran di meja makan, kali ini anakku memintaku untuk memasak istimewa. Demi mengabulkan keinginan anakku, kusiapkan segalanya. Bahan makanan dan selongsong ketupat pun sudah siap masak. Bahkan sengaja kubeli 1 set peralatan makan lengkap. Semuanya tak berani kusentuh sebelum ada pengumuman dari pemerintah.
         Begitu mendengar pengumuman bahwa pemerintan menentukan tanggal 1 Syawal jatuh pada hari Rabu, lemaslah sudah badanku. Aku bingung bagaimana harus mencari solusinya. Saat kududuk sendiri di depan komputer sambil membaca berbagai artikel dengan segala  kegalauanku, tiba-tiba Izza anakku (10 th) mendatangiku. Kami ngobrol ngalor ngidul dan  tanpa terasa aku curhat padanya tentang kebingunganku. Surprise, dengan tenang anak gadisku memberikan solusi manjur. Dia meminta ijin padaku untuk sholat Ied di hari Selasa karena dia meyakini  hari Selasa berdasarkan semua yang dia baca di  beberapa artikel di internet siang tadi. Dan diapun  memintaku untuk mengikuti apa yang dipercayai oleh hati kecilku. Untuk menghormati ayahnya, Izza meminta agar aku menyiapkan hidangan lebaran di hari Rabu. Sungguh aku tidak menyangka anak seusia Izza mampu mengambil keputusan secerdas itu.Izza saja berani mengambil keputusan, masak aku ibunya malah kalah dan tenggelam dalam keraguan. Aku harus berani menentukan pilihanku.
         Ketika ayahnya pulang dari masjid, bersama Izza kusampaikan keinginan kami untuk sholat Ied di hari Selasa. Alhamdulillah ayahnya bisa mengerti bahwa ini adalah soal keyakinan. Nanti ayahnya yang akan menjelaskan kepada keluarga besarnya. Disepakati bahwa aku dan Izza akan sholat Ied di hari Selasa sementara ayahnya tetap akan melanjutkan puasanya. Namun puasa itu tidak menghalangi kebersamaan kami bergembira merayakan lebaran di keluarga besarku. Aku akan meyiapkan hidangan lebaran di hari Rabu untuk merayakan lebaran bersama keluarga besar ayahnya.
        Setelah kuselesaikan urusan Zakat, akhirnya aku dapat tidur nyenyak di malam lebaran. Selasa pagi aku dan anak-anak sholat Ied di Alun-Alun Kidul dengan  diantar oleh ayahnya. Dilanjutkan bersilaturahmi ke rumah sanak family di keluargaku. Ternyata kami malah dapat bersilaturahmi dengan tenang tanpa dikejar waktu karena harus berbagi dengan keluarga besar ayahnya. Alhamdulillah keluarga besarku juga bisa mengerti akan keyakinan suamiku. Acara halal bil halal keluarga sengaja diundur ba’da Isya agar suamiku bisa mengikuti setelah dia berbuka puasa nanti.
          Rabu pagi aku bangun sepagi mungkin untuk melaksanakan janjiku menyiapkan hidangan lebaran istimewa. Walau dalam kondisi lelah, akhirnya tersaji juga ketupat, opor, sambal goring, pudding buah, kerupuk dan es buah. Dibantu Izza aku menyiapkan semuanya saat ayahnya sholat Ied di masjid Pondok Pesantren di dekat rumah. Untuk pertama kalinya, kami berempat menikmati hidangan lebaran lengkap hasil karya tanganku. Kunikmati binar bahagia di mata suami dan anak-anakku. Yang lebih membahagiakan, ibu mertua dan adik-adik suamiku malah ikut menikmati masakanku.
            Hari Rabu itu, kuhabiskan hariku bersama keluarga besar suamiku dengan tenang juga karena urusan silaturahmi kami dengan keluarga besarku sudah kami selesaikan di hari Selasa. Alhamdulillah. Perbedaan yang tadinya sangat membuat aku khawatir dan cemas ternyata bisa juga membuatku menikmati kebersamaanku dengan kedua keluarga besarku dengan bahagia dan tenang. Ternyata dalam setiap kesulitan pasti ada solusi. Hanya kita harus cerdas dan berani menggunakan fikiran dan nurani kita untuk menemukan solusi itu. 

Krapyak Kulon 25 September 2011