Assalamu’alaikum simbok,
Simbok apa kabar? Harapanku semoga simbok sehat dan gembira selalu. Supaya simbok dapat terus melantunkan Sholawat Nabi setiap hari. Hari ini hari ibu. Dan perempuan yang muncul di ingatanku adalah simbok. Ijinkan aku menuliskan sesuatu untuk simbok yang selama ini mungkin tak pernah kau tau.
Simbok,
Syukur kepada Gusti Allah tak pernah henti kupanjatkan. Untuk takdirNya yang membawaku menjadi menantumu Sungguh aku bahagia menjadi menantumu. Sebahagia aku menjadi istri dari anak lelaki kesayanganmu itu.
Simbok,
Ijinkan aku untuk tetap memanggilmu simbok. Biar saja menantumu yang lain memanggilmu ibu. Bukan apa-apa. Aku hanya ingin duduk sejajar anak-anakmu yang terbiasa memanggilmu simbok sejak kecil seperti yang simbok ajarkan. Aku tak pernah merasa malu walau kata kebanyakan orang panggilan simbok itu terkesan ndeso. Buatku, memanggilmu simbok itu justru terdengar lebih akrab. Serasa aku adalah anakmu, bukan menantumu.
Simbok,
Matur nuwun untuk semua yang telah simbok berikan untukku. Untuk keikhlasan simbok melepas anak lelaki kesayanganmu menjadi suamiku. Aku berjanji, dengan menjadikan aku istrinya, tidak akan pernah mengurangi bakti dan kasih sayangnya untuk simbok. Justru aku ingin menyempurnakannya. Terus mendampinginya untuk menjadi anak yang selalu berbakti kepada simbok.
Simbok,
Di setiap do’aku, namamu tak lupa selalu kusebut. Yang paling utama kumohonkan agar simbok dianugerahi Gusti Allah umur yang panjang. Aku ingin simbok dapat mendampingi kami lebih lama. Hidupku terasa lebih ayem saat ada simbok di sampingku. Ilmu ikhlas yang tanpa sadar selalu simbok ajarkan kepadaku sungguh membuat hidupku lebih bermakna.
Simbok,
Sekali lagi matur nuwun.
Krapyak Kulon 22 Desember 2015
Jawa Pos edisi 22 Desember 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar