Perbedaan 1 Syawal Membawa Hikmah
Perbedaan penentuan tanggal 1 Syawal yang baru saja kita alami kemarin sungguh memberikan hikmah yang luar biasa untuk keluarga kecilku. Sungguh aku makin percaya bahwa Allah memang Maha Sutradara dan tak sehelai daun pun yang jatuh tanpa campur tanganNya.Kita manusia diwajibkan untuk dapat menggunakan akal pikiran kita untuk membaca hikmah atas segala rencanaNya yang harus kita hadapi.
Jujur awalnya aku bingung bagaimana harus menyikapi perbedaan penentuan
Lebaran itu. Mungkin nampaknya sepele buat sebagian orang. Tinggal mana
yang kita percayai, kita ikuti, selesai. Tapi tidak untuk kami,
keluarga kecilku.Betapa tidak, aku dibesarkan dalam keluarga
Muhammadiyah banget, sementara sekarang aku dengan keluarga kecilku
tinggal di lingkungan yang fanatik NU, termasuk mertua dan keluarga
suamiku lainnya, karena kami tinggal di lingkungan Pondok Pesantren NU.
Jika aku mengikuti lebaran di hari Selasa, aku sangat mengerti, pasti
sangat sulit buat suamiku ketika berhadapan dengan orang tua dan
keluarganya. Sebaliknya, jika aku berlebaran hari Rabu aku tidak tahu
bagaimana harus bersikap kepada orang tua dan keluarga besarku.
Dan aku tidak ingin anak-anakku kehilangan indahnya moment kebersamaan di hari
raya bersama kedua keluarga besar.
Senin sore tanggal 28 Agustus 2011 adalah saat-saat menegangkan buatku. Penentuan tanggal 1 Syawal yang tak kunjung diumumkan oleh pemerintah tambah membuatku semakin cemas. Jika pada lebaran-lebaran sebelumnya aku nggak pernah menyiapkan hidangan lebaran di meja makan, kali ini anakku memintaku untuk memasak istimewa. Demi mengabulkan keinginan anakku, kusiapkan segalanya. Bahan makanan dan selongsong ketupat pun sudah siap masak. Bahkan sengaja kubeli 1 set peralatan makan lengkap. Semuanya tak berani kusentuh sebelum ada pengumuman dari pemerintah.
Begitu mendengar pengumuman bahwa pemerintan menentukan tanggal 1 Syawal jatuh pada hari Rabu, lemaslah sudah badanku. Aku bingung bagaimana harus mencari solusinya. Saat kududuk sendiri di depan komputer sambil membaca berbagai artikel dengan segala kegalauanku, tiba-tiba Izza anakku (10 th) mendatangiku. Kami ngobrol ngalor ngidul dan tanpa terasa aku curhat padanya tentang kebingunganku. Surprise, dengan tenang anak gadisku memberikan solusi manjur. Dia meminta ijin padaku untuk sholat Ied di hari Selasa karena dia meyakini hari Selasa berdasarkan semua yang dia baca di beberapa artikel di internet siang tadi. Dan diapun memintaku untuk mengikuti apa yang dipercayai oleh hati kecilku. Untuk menghormati ayahnya, Izza meminta agar aku menyiapkan hidangan lebaran di hari Rabu. Sungguh aku tidak menyangka anak seusia Izza mampu mengambil keputusan secerdas itu.Izza saja berani mengambil keputusan, masak aku ibunya malah kalah dan tenggelam dalam keraguan. Aku harus berani menentukan pilihanku.
Ketika ayahnya pulang dari masjid, bersama Izza kusampaikan keinginan kami untuk sholat Ied di hari Selasa. Alhamdulillah ayahnya bisa mengerti bahwa ini adalah soal keyakinan. Nanti ayahnya yang akan menjelaskan kepada keluarga besarnya. Disepakati bahwa aku dan Izza akan sholat Ied di hari Selasa sementara ayahnya tetap akan melanjutkan puasanya. Namun puasa itu tidak menghalangi kebersamaan kami bergembira merayakan lebaran di keluarga besarku. Aku akan meyiapkan hidangan lebaran di hari Rabu untuk merayakan lebaran bersama keluarga besar ayahnya.
Setelah kuselesaikan urusan Zakat, akhirnya aku dapat tidur nyenyak di malam lebaran. Selasa pagi aku dan anak-anak sholat Ied di Alun-Alun Kidul dengan diantar oleh ayahnya. Dilanjutkan bersilaturahmi ke rumah sanak family di keluargaku. Ternyata kami malah dapat bersilaturahmi dengan tenang tanpa dikejar waktu karena harus berbagi dengan keluarga besar ayahnya. Alhamdulillah keluarga besarku juga bisa mengerti akan keyakinan suamiku. Acara halal bil halal keluarga sengaja diundur ba’da Isya agar suamiku bisa mengikuti setelah dia berbuka puasa nanti.
Rabu pagi aku bangun sepagi mungkin untuk melaksanakan janjiku menyiapkan hidangan lebaran istimewa. Walau dalam kondisi lelah, akhirnya tersaji juga ketupat, opor, sambal goring, pudding buah, kerupuk dan es buah. Dibantu Izza aku menyiapkan semuanya saat ayahnya sholat Ied di masjid Pondok Pesantren di dekat rumah. Untuk pertama kalinya, kami berempat menikmati hidangan lebaran lengkap hasil karya tanganku. Kunikmati binar bahagia di mata suami dan anak-anakku. Yang lebih membahagiakan, ibu mertua dan adik-adik suamiku malah ikut menikmati masakanku.
Hari Rabu itu, kuhabiskan hariku bersama keluarga besar suamiku dengan tenang juga karena urusan silaturahmi kami dengan keluarga besarku sudah kami selesaikan di hari Selasa. Alhamdulillah. Perbedaan yang tadinya sangat membuat aku khawatir dan cemas ternyata bisa juga membuatku menikmati kebersamaanku dengan kedua keluarga besarku dengan bahagia dan tenang. Ternyata dalam setiap kesulitan pasti ada solusi. Hanya kita harus cerdas dan berani menggunakan fikiran dan nurani kita untuk menemukan solusi itu.
Krapyak Kulon 25 September 2011
Senin sore tanggal 28 Agustus 2011 adalah saat-saat menegangkan buatku. Penentuan tanggal 1 Syawal yang tak kunjung diumumkan oleh pemerintah tambah membuatku semakin cemas. Jika pada lebaran-lebaran sebelumnya aku nggak pernah menyiapkan hidangan lebaran di meja makan, kali ini anakku memintaku untuk memasak istimewa. Demi mengabulkan keinginan anakku, kusiapkan segalanya. Bahan makanan dan selongsong ketupat pun sudah siap masak. Bahkan sengaja kubeli 1 set peralatan makan lengkap. Semuanya tak berani kusentuh sebelum ada pengumuman dari pemerintah.
Begitu mendengar pengumuman bahwa pemerintan menentukan tanggal 1 Syawal jatuh pada hari Rabu, lemaslah sudah badanku. Aku bingung bagaimana harus mencari solusinya. Saat kududuk sendiri di depan komputer sambil membaca berbagai artikel dengan segala kegalauanku, tiba-tiba Izza anakku (10 th) mendatangiku. Kami ngobrol ngalor ngidul dan tanpa terasa aku curhat padanya tentang kebingunganku. Surprise, dengan tenang anak gadisku memberikan solusi manjur. Dia meminta ijin padaku untuk sholat Ied di hari Selasa karena dia meyakini hari Selasa berdasarkan semua yang dia baca di beberapa artikel di internet siang tadi. Dan diapun memintaku untuk mengikuti apa yang dipercayai oleh hati kecilku. Untuk menghormati ayahnya, Izza meminta agar aku menyiapkan hidangan lebaran di hari Rabu. Sungguh aku tidak menyangka anak seusia Izza mampu mengambil keputusan secerdas itu.Izza saja berani mengambil keputusan, masak aku ibunya malah kalah dan tenggelam dalam keraguan. Aku harus berani menentukan pilihanku.
Ketika ayahnya pulang dari masjid, bersama Izza kusampaikan keinginan kami untuk sholat Ied di hari Selasa. Alhamdulillah ayahnya bisa mengerti bahwa ini adalah soal keyakinan. Nanti ayahnya yang akan menjelaskan kepada keluarga besarnya. Disepakati bahwa aku dan Izza akan sholat Ied di hari Selasa sementara ayahnya tetap akan melanjutkan puasanya. Namun puasa itu tidak menghalangi kebersamaan kami bergembira merayakan lebaran di keluarga besarku. Aku akan meyiapkan hidangan lebaran di hari Rabu untuk merayakan lebaran bersama keluarga besar ayahnya.
Setelah kuselesaikan urusan Zakat, akhirnya aku dapat tidur nyenyak di malam lebaran. Selasa pagi aku dan anak-anak sholat Ied di Alun-Alun Kidul dengan diantar oleh ayahnya. Dilanjutkan bersilaturahmi ke rumah sanak family di keluargaku. Ternyata kami malah dapat bersilaturahmi dengan tenang tanpa dikejar waktu karena harus berbagi dengan keluarga besar ayahnya. Alhamdulillah keluarga besarku juga bisa mengerti akan keyakinan suamiku. Acara halal bil halal keluarga sengaja diundur ba’da Isya agar suamiku bisa mengikuti setelah dia berbuka puasa nanti.
Rabu pagi aku bangun sepagi mungkin untuk melaksanakan janjiku menyiapkan hidangan lebaran istimewa. Walau dalam kondisi lelah, akhirnya tersaji juga ketupat, opor, sambal goring, pudding buah, kerupuk dan es buah. Dibantu Izza aku menyiapkan semuanya saat ayahnya sholat Ied di masjid Pondok Pesantren di dekat rumah. Untuk pertama kalinya, kami berempat menikmati hidangan lebaran lengkap hasil karya tanganku. Kunikmati binar bahagia di mata suami dan anak-anakku. Yang lebih membahagiakan, ibu mertua dan adik-adik suamiku malah ikut menikmati masakanku.
Hari Rabu itu, kuhabiskan hariku bersama keluarga besar suamiku dengan tenang juga karena urusan silaturahmi kami dengan keluarga besarku sudah kami selesaikan di hari Selasa. Alhamdulillah. Perbedaan yang tadinya sangat membuat aku khawatir dan cemas ternyata bisa juga membuatku menikmati kebersamaanku dengan kedua keluarga besarku dengan bahagia dan tenang. Ternyata dalam setiap kesulitan pasti ada solusi. Hanya kita harus cerdas dan berani menggunakan fikiran dan nurani kita untuk menemukan solusi itu.
Krapyak Kulon 25 September 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar